PERENCANAAN
LABORATORIUM
Planning
atau perencanaan merupakan proses memutuskan kegiatan apa, bagaimana
melaksanakannya, kapan, dan oleh siapa. Perencanaan perlu dilakukan untuk
menghindari kesalahan dalam melakukan tindakan sehingga menyebabkan kerugian
bagi organisasi. Dalam perencanaan akan ditentukan secara matang segala sesuatu
yang akan dilaksanakan, sumber-sumber daya apa saja yang harus disediakan untuk
mendukung pelaksanaannya (manusia, bahan dan alat laboratorium, anggaran),
jadwal kegiatan yang mencakup target waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan
segala proses.
Perencanaan merupakan sebuah proses
pemikiran yang sistematis, analitis, logis tentang kegiatan yang harus
dilakukan, langkah-langkah, metode, SDM, tenaga dan dana yang dibutuhkan untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan secara efektif dan efisien. Perencanaan ini
dimaksudkan untuk merencakan konsep dari suatu laboratorium itu sendiri. Artinya
sebelum laboratoium itu dibangun harus tahu dulu untuk keperluan apa dan untuk
dipakai siapa laboratorium tersebut. Misalnya laboratorium yang akan digunakan
untuk pembelajaran Fisika di
Sekolah Menengah tentunya akan memiliki bentuk yang berbeda dengan laboratorium
untuk penelitian.
1.
Desain
Laboratorium
Bentuk
ruang laboratorium siswa sebaiknya bujur sangkar. Bentuk bujur sangkar
memungkinkan jarak antara guru dan siswa dapat lebih dekat sehingga memudahkan
kontak guru dan siswa.
Ketentuan
ruang laboratorium IPA menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24
tahun 2007 yaitu rasio minimum ruang laboratorium IPA 2,4 m2
/peserta didik, untuk rombongan belajar kurang dari 20 orang, luas minimum
ruang laboratorium 48 m2 termasuk luas ruang penyimpanan dan
persiapan 18 m2. Lebar minimum ruang laboratorium IPA 5 m2.
Sebuah
laboratorium dengan ukuran lantai seluas 100 m2 dapat digunakan oleh
sekitar 40 siswa, dengan rasio setiap siswa menggunakan tempat seluas 2,5 m2
dari keseluruhan luas laboratorium. Apabila kita lihat desain laboratorium
menurut Koesmadji dan desain laboratorium menurut Permendiknas, persamaan dari
keduanya adalah rasio setiap siswa dalam menggunakan tempat di laboratorium ±
sekitar 2,5 m2.

Contoh denah ruang
laboratorium sekolah
a. Jenis Laboratorium
Seperti telah disinggung di muka bahwa laboratirum
dapat bermacam-macam jenisnya. Di sekolah menengah, umumnya jenis laboratorium
disesuaikan dengan mata pelajaran yang membutuhkan laboratorium tersebut.
Karena itu di sekolah-sekolah untuk pembelajaran IPA biasanya hanya dikenal
laboratorium fisika, laboratorium kimia dan laboratorium biologi. Di SLTP
mungkin hanya ada laboratorium IPA saja. Di Perguruan Tinggi, untuk satu
jurusan saja, mungkin terdapat banyak laboratorium. Di jurusan Biologi, kita
kenal laboratorium Fisiologi, laboratorium Mikrobiologi, laboratorium Ekologi,
laboratorium Genetika dan lain-lain. Bahkan ada laboratorium yang lebih
spesifik lagi seperti laboratorium Kultur jaringan tumbuhan.
Kadang-kadang atas pertimbangan efisiensi, suatu
ruangan laboratorium difungsikan sekaligus sebagai ruangan kelas untuk proses
belajar mengajar IPA. Laboratorium jenis ini dikenal sebagai Science classroom-laboratory. Kelebihan
jenis laboratorium ini bersifat multi guna. Contoh tata letak laboratorium
jenis ini dapat dilihat pada gambar berikut ini :

b. Tata Letak Laboratorium
Pemakai laboratorium hendaknya memahami tata letak
atau layout bangunan laboratorium. Pembangunan suatu laboratorium tidak
dipercayakan begitu saja kepada seorang arsitektur bangunan. Bangunan
laboratorium tidak sama dengan bangunan kelas. Banyak faktor yang harus
dipertimbangkan sebelum membangun laboratorium. Faktor-faktor tersebut antara
lain lokasi bangunan laboratorium dan ukuran-ukuran ruang.
Persyaratan lokasi pembangunan laboratorium antara
lain tidak terletak pada arah angin yang menuju bangunan lain atau pemukiman.
Hal ini dimaksudkan untuk menghindari penyebaran gas-gas berbahaya. Bangunan
laboratorium tidak berdekatan atau dibangun pada lokasi sumber air. Bangunan
laboratorium jangan terlalu dekat dengan bangunan lainnya. Lokasi laboratorium
harus mudah dijangkau untuk pengontrolan dan memudahkan tindakan lainnya
misalnya apabila terjadi kebakaran, mobil kebakaran harus dapat menjangkau
bangunan laboratorium.
Selain persyaratan lokasi, perlu diperhatikan pula
tata letak ruangan. Ruangan laboratorium untuk pembelajaran sain umumnya
terdiri dari ruang utama dan ruangruang pelengkap. Ruang utama adalah ruangan
tempat para siswa atau mahasiswa melakukan praktikum. Ruang pelengkap umumnya
terdiri dari ruang persiapan dan ruang penyimpanan. Ruang persiapan digunakan
untuk menyiapkan alat-alat dan bahan-bahan yang akan dipakai praktikum atau
percobaan baik untuk siswa maupun untuk guru. Ruang penyimpanan atau gudang
terutama digunakan untuk menyimpan bahan-bahan persediaan (termasuk bahan kimia)
dan alat-alat yang penggunaannya tidak setiap saat (jarang). Selain
ruangan-ruangan tersebut, mungkin juga sebuah laboratorium memiliki ruang gelap
(dark room), ruangan spesimen,
ruangan khusus untuk penyimpanan bahan-bahan kimia dan ruang adminitrasi / staf
. Hal ini didasarkan atas pertimbangan keamanan berbagai peralatan laboratorium
dan kenyamanan para pengguna laboratorium.
Penyimpanan alat-alat di dalam gudang tidak boleh
disatukan dengan bahan kimia. Demikian pula penyimpanan alat-alat gelas tidak
boleh disatukan dengan alat-alat yang terbuat dari logam.
Ukuran ruang
utama lebih besar dari pada ukuran ruang persiapan dan ruang penyimpanan.
Contoh apabila luas lantai untuk sebuah bangunan laboratorium 100 m2,
70 – 80 m2 diguanakan untuk ruang utama tempat praktikum. Ruang
penyimpanan harus dapat ditempati lemari yang akan digunakan untuk menyimpan
alat-alat atau bahan. Demikian juga ruang persiapan, harus dapat ditempati meja
dan alat-alat untuk keperluan penyiapan bahan-bahan atau alat-alat untuk
percobaan.
Contoh tata letak ruangan-ruangan laboratorium
beserta ukurannya dapat dilihat pada gambar berikut :

2.
Perencanaan Pengadaan Peralatan
Laboratorium
Perencanaan alat laboratorium harus sesuai dengan
jumlah dan kondisi siswa, peralatan laboratorium dapat dibagi menjadi 2
kelompok yaitu:
a.
Peralatan
umum
Peralatan umum adalah perangkat yang dikelompokan
menurut segi pemakaiannya.
1)
Perkakas
seperti obeng, tang, pisau, catut, palu, gunting, pemotong kaca dan pelubang
gabus.
2)
Instrument
seperti: basicmeter, stop watch, jangka sorong, neraca, dan meteran.
3)
Alat
gelas seperti tabung reaksi, gelas kimia.
4)
Bagan,
seperti penampang melintang batang, daun.
5)
Model,
seperti model atom, model mesin uap, model tata surya, model ginjal.
b.
Peralatan
khusus
Peralatan
khusus adalah perangkat alat yang dikelompokan berdasarkan keterkaitan dengan
mata pelajaran dan perlakuan perawatannya, seperti:
1)
Mikroskop.
2)
Komporator
lingkungan.
3)
Osiloskop.
4)
Audio generator.
5)
Neraca.
6)
Slinki, dan lain-lain.
Kebutuhan
alat-alat ini agar disesuaikan dengan jumlah kelompok siswa, sehingga semua
kelompok siswa dapat melakukan praktik dengan baik (Jauhar & Hamiyah, 2015:
152). Penataan dan penyimpanan alat-alat laboratorium sangat perlu memperhatikan
karakteristik dan spesifikasinya, baik untuk alasan keamanan alat, kemudahan
pencarian dan pemeriksaan, perawatan dan pemeliharaan, ataupun sekedar
kerapihan penyimpanan. Oleh karena itu alat-alat laboratorium perlu
dikelompokkan atau diklasifikasikan berdasarkan kriteria yang sesuai dengan
tujuan pengelonpokkannya. Kriteria klasifikasi alat-alat laboratorium antara
lain adalah bahan utama pembuatan, massa, bentuk dan volume, pabrik pembuat,
usia pakai, konserp fisika, fungsi atau kegunaan.
3.
Perencanaan
Pendayagunaan Laboratorium
Menurut pengelola
laboratorium, dalam hal pendayagunaan laboratorium khususnya laboratorium IPA
diawali dengan penentuan ruangan yang dipergunakan, dengan pengelola yang
ditunjuk pada awal tahun pelajaran yaitu satu orang koordinator pengelola
laboratorium IPA dan masing-masing satu orang kepala laboratorium Biologi,
Fisika, dan Kimia, dan satu orang laboran IPA. Pihak pengelola yang ditunjuk
membuat perencanaan administrasi, seperti struktur organisasi, program kerja,
tata tertib, jadwal penggunaan, buku inventaris dan buku jurnal harian
kegiatan. Perencanaan lain juga dalam hal keperluan alat peraga, kelengkapan
sarana laboratorium, alat dan bahan praktikum yang dibuat oleh masing-masing
kepala laboratorium. Perencanaan yang dibuat direalisasikan dalam kegiatan
pelaksanaan pengelolaan laboratorium oleh masing-masing kepala laboratorium
dibantu oleh laboran IPA.
4.
Perencanaan
Inventarisasi Perawatan Biaya Operasional dan Bahan Habis Pakai
Dalam
satu tahun pelajaran semua kebutuhan perawatan biaya operasioanal dan dana
untuk belajar bahan habis pakai harus didata, diinventariskan dan direncanakan secara
tepat sehingga dalam pelaksanaan kegiatan praktikum tidak terjadi kehabisan
bahan.
Sebagai tempat pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam,
laboratorium membutuhkan beberapa fasilitas antara lain:
a.
Fasilitas
umum : fasilitas umum merupakan
fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai laboratorium, contohnya:
penerangan, ventilasi, air, bak cuci, aliran listrik, gas.
b.
Fasilitas
khusus : fasilitas khusus berupa
peralatan mebelair, contohnya meja siswa, meja guru, kursi, papan tulis, lemari
alat, lemari bahan, dan ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam
kebakaran dan lain-lain.
Pemakai
laboratorium hendaknya memiliki tata letak atau layout bangunan laboratorium. Bangunan laboratorium tidak sama
dengan bangunan kelas. Dalam pembangunan laboratorium membutuhkan perencanaan
dan pertimbangan yang matang terutama dalam kesesuaian letaknya terhadap
ruangan lain.
5.
Perencanaan Pelaporan
Perencanaan pelaporan dilakukan untuk mempersiapkan
laporan yang akan dibuat sebagai bukti kegiatan yang telah dilakukan. Menurut
koordinator pengelola laboratorium IPA, pelaporan dilakukan setiap akhir tahun
pelajaran, di mana dibuat bersama-sama oleh pengelola laboratorium Fisika,
Kimia, dan Biologi, beserta laboran, dan kemudian disampaikan kepada kepala
sekolah.
Referensi :
Rasyid, A.,H. 2016.
Indonesia Perencanaan dan
Pengorganisasian Laboratorium IPA di SMA
Negeri 8 Kupang Nusa Tenggara Timur. Yogyakarta : Jurnal Pendidikan.
Negeri 8 Kupang Nusa Tenggara Timur. Yogyakarta : Jurnal Pendidikan.
Riandi. 2013. Diktat
Pengelolaan Laboratorium. Bandung : UPI Pres.
Salabi, Ahmad. 2016. Needs Assessment Laboratorium
Biologi pada Madrasah Aliyah Negeri
(MAN) di Kota Banjarmasin. Banjarmasin: Jurnal PTK & Pendidikan Vol. 2 No. 2 e-
ISSN : 2460-1780
(MAN) di Kota Banjarmasin. Banjarmasin: Jurnal PTK & Pendidikan Vol. 2 No. 2 e-
ISSN : 2460-1780
No comments:
Post a Comment