KESELAMATAN KERJA LABORATORIUM
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani
maupun rohaniah tenaga kerja (laboran/analis) pada khususnya dan manusia pada
umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur. Secara
keilmuan K3 merupakan ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, termasuk saat
bekerja di laboratorium.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa saat melakukan
aktivitas atau kerja di laboratorium masih sering terjadi kecelakaan kerja.
Kecelakaan dapat terjadi dalam setiap kegiatan manusia. Kecelakaan merupakan
suatu kejadian di luar kemampuan manusia, terjadi dalam sekejap dan dapat menimbulkan
kerusakan baik jasmani maupun jiwa. Kegiatan yang membahayakan sering terjadi
di laboratorium, tetapi hal ini tidak harus membuat kita takut untuk melakukan
kegiatan di laboratorium. Kecelakaan di
laboratorium dapat menimpa siapa saja, bukan hanya pemakai lab melainkan juga
pengunjung bahkan pembersih lab. Penyebab kecelakaan bisa dari faktor kimia
seperti kontak dengan zat asam dan atau basa, faktor fisika seperti tersetrum
listrik, serta faktor biologis seperti tergigit hewan coba. Pada setiap kecelakaan
lab di sekolah khususnya, akan selalu diikuti dengan kekacauan dan kepanikan.
Sebagai guru penanggung jawab P3K di lab, yang harus dilakukan pertama kali
adalah menghilangkan kerumunan siswa di sekitar korban dan menata tempat
kejadian, memberikan ruang terbuka yang adekuat untuk melakukan tindakan P3K,
serta menenangkan dan menyamankan korban.
1. Sumber Terjadinya Kecelakaan Kerja
Terjadinya kecelakaan dapat disebabkan oleh banyak hal. Berikut
adalah sebab-sebab terjadinya kecelakaan di laboratrorium :
a.
Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bahan-bahan kimia dan
proses-proses serta kperlengkapan atau peralatan yang digunakan dalam melakukan
kegiatan di laboratorium.
b.
Kurang jelasnya petunjuk kegiatan laboratorium dan juga kurangnya
pengawasan yang dilakukan selama melakukan kegiatan laboratorium.
c.
Kurangnya bimbingan terhadap mahasiswa yang sedang melakukan kegiatan
laboratorium.
d.
Kuranganya atau tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan perlengkapan
pelindung kegiatan laboratorim.
e.
Kurang atau tidak mengikuti petunjuk atau aturan-aturan yang semestinya
harus ditaati.
f.
Tidak menggunakan perlengkapan pelindung yang seharusnya digunakan atau
menggunakan peralatan atau bahan yang tidak sesuai.
g.
Tidak bersikap hati-hati di dalam melakukan kegiatan. Terjadinya
kecelakaan di laboratorium dapat dikurangi sampai tingkat paling minimal jika
setiap orang yang menggunakan laboratorium mengetahui tanggung jawabnya.
2. Jenis-jenis Kecelakaan di Laboratorium
Kecelakaan di laboratorium dapat berbentuk 2 jenis yaitu
:
a. Kecelakaan medis, jika yang
menjadi korban adalah pasien.
b. Kecelakaan kerja, jika yang
menjadi korban adalah petugas laboratorium itu sendiri.
Berbagai jenis kecelakaan dapat terjadi di laboratorium sekolah di
antaranya :
a.
Terluka, disebabkan terkena pecahan kaca dan/atau tertusuk oleh
benda-benda tajam lainnya.
b.
Terbakar, disebabkan tersentuh api atau benda panas lain, dan oleh bahan
kimia tertentu.
c.
Terkena racun (keracunan), keracunan ini terjadi karena tidak sengaja
dan/atau kecerobohan sehingga masuk ke dalam tubuh.
d.
Terkena zat korosif, seperti berbagai jenis asam.
e.
Terkena radiasi sinar berbahaya, seperti sinar dari zat radioaktif (jika
sekolah tersedia zat seperti itu), sinar-X, dan sinar ultraviolet.
f.
Terkena kejutan listrik pada waktu menggunakan listrik bertegangan
tinggi.
3. Pertolongan Pertama pada Kecelakaan di Laboratorium
Pengertian
pertolongan pertama pada kecelakaan adalah pertolongan yang diberikan segera
setelah kecelakaan dengan memberikan pengobatan dan perawatan darurat bagi
korban sebelum pertolongan yang lebih akurat diberikan oleh dokter ahli.
Walaupun tindakan P3K ini bersifat sementara, tindakan P3K ini diharapkan dapat
mengurangi penderitaan, masa perawatan di rumah sakit dan kecacatan pada
korban. Pertolongan yang diberikan bersifat sederhana dengan peralatan dasar
sederhana yang langsung diberikan di tempat kejadian kecelakaan dalam hal ini
di laboratorium, sehingga tindakan P3K tidaklah dimaksudkan untuk memberikan
pertolongan sampai selesai. Disamping upaya melakukan P3K, sebagai penolong
kita berkewajiban tetap mencarikan pertolongan dari petugas kesehatan secepat
mungkin.
Tindakan
P3K bersifat darurat namun menuntut kecepatan dan ketepatan agar dapat
menyelamatkan penderita. Tujuan yang lain adalah mencegah bertambah parahnya
luka serta komplikasi seperti kecacatan atau infeksi penyerta akibat
kecelakaan. P3K juga bertujuan mengurangi rasa nyeri dan cemas serta menjaga
ketenangan fisik dan mental penderita, sehingga akhirnya menunjang upaya
penyembuhan.
Prinsip
pokok P3K disingkat dengan DRABC, yaitu: D(danger, petugas P3K harus
mengamankan dahulu situasi dan kondisi sebelum menangani korban), R(response,
melakukan penilaian kesadaran kepada korban secara langsung (ditepuk pipi,
digoyangkan bahunya) maupun secara tidak langsung (dipanggil), A(airway, yaitu
mengamankan jalan napas korban dengan membersihkan jika ada sumbatan atau benda
asing), B(breathing, yaitu mengecek laju pernapasan korban, menjaga pernapasan
korban agar tetap belangsung dengan baik, melakukan pernapasan buatan dari
mulut jika terlihat pernapasan berhenti), serta C(circulation, melakukan pemeriksaan
tanda vital korban seperti denyut jantung, denyut nadi dan laju pernapasan
korban). Jika korban sadar, posisikan dan pertahankan jalan napasnya.
Jika
tidak ada tanda-tanda korban bernapas, berarti korban mengalami gangguan
pernapasan. Penyebab gangguan bernapas adalah sumbatan jalan napas seperti
ketika siswa tersedak suatu benda, atau tak sengaja menelan benda yang
berukuran besar, kelemahan atau kejang otot pernapasan, dan menghisap asap /
gas beracun karena kebocoran gas berbahaya di laboratorium misal ether,
khloroform, aerosol, dsb. Jika korban tersedak lakukan manuver seperti memukul
dengan kuat bagian punggung diantara tulang belikatnya dengan posisi korban
dalam keadaan membungkuk, atau mendekap korban dari belakang dan menekan
keras-keras bagian tengah perutnya.
Bila
tidak ditemukan tanda-tanda korban bernapas spontan, tindakan yang dilakukan
adalah memberikan pernapasan bantuan dengan :
a. Siswa
dalam keadaan terlentang dan kepala ditengadahkan.
b. Bersihkan
jalan pernapasan (hidung, mulut, dan kerongkongan).
c. Memposisikan
leher dalam keadaan ekstensi (menengadah) dengan manuver Head Tilt, membuka
lebar-lebar mulut korban dengan manuved Chin Lift dan menarik rahang bawah
korban dengan manuver Jaw Thrust sementara penolong jongkok disamping korban.
d. Memasukkan
O2 dan keluarkan CO2 pada siswa sampai sadar dengan dengan cara yaitu: a)
penolong menghisap napas sebanyak mungkin, b) hembuskan ke mulut korban dan
usahakan tidak ada udara yang bocor dengan cara menutup lubang hidung siswa
dengan jari, c) tiup via mulut : Dewasa 10 - 12 x/menit, interval 5 hitungan.
e. Perhatikan
udara yang masuk ke paru-paru siswa apakah dadanya terlihat mengembang, jika
ada bukti dada mengembang, lepaskan mulut penolong agar udara pernapasan siswa
dapat dibiarkan keluar dari hidung dan mulut.
f. Lakukan
hal ini beberapa kali dan jika ada luka di mulut siswa, lakukan pernapasan pada
hidung siswa dengan menutup mulut.
Pada
pemberian bantuan napas buatan ini yang perlu diperhatikan adalah tidak efektif
jika ada kebocoran karena lubang hidung tidak tertutup sepenuhnya atau mulut
penolong tidak bisa sepenuhnya melingkupi mulut korban, kegagalan
mempertahankan posisi jalan napas tetap terbuka dan adanya obstruksi jalan
napas yang pembersihannya tidak sempurna.
Jika
denyut jantung tidak ada, lakukan Resusitasi Kardiopulmoner (RKP) atau
Resusitasi Jantung Paru (RJP) yang merupakan gabungan dari pertolongan napas
buatan dengan pijat luar jantung, digunakan ketika seorang korban mengalami
henti jantung dan henti napas. Adapun korban yang membutuhkan RJP syaratnya
yaitu korban tidak berespon, tidak bernapas, denyut nadi karotis tidak teraba
atau lemah yang mengindikasikan gangguan sirkulasi.
RJP
dilakukan dengan membaringkan korban terlentang pada permukaan yang keras
(lantai, papan, meja, dsb). Posisikan penolong berjongkok disamping korban,
tentukan titik kompresi yaitu 2 jari dari ujung tulang dada (processus
xiphoideus tulang sternum), tekan dengan menekankan pangkal telapak tangan (2
telapak tangan saling menumpuk) dalamnya sekitar 4 -5 cm. Satu siklus terdiri
dari 2x tiupan ke mulut, 15x tekanan dada dst (jika penolong 1 orang) atau 5x
tekan dada dan 1x tiupan mulut (jika penolong 2 orang). Lakukan pengecekan
napas dan denyut nadi di arteri karotis, jika belum cukup kuat dilakukan pengulangan.
Korban dapat tertolong jika RJP efektif, namun jika RJP tidak efektif dapat
menimbulkan komplikasi seperti cedera pada tulang rusuk, luka dan perdarahan
dalam, serta patah tulang pada tulang rawan dada.
Setelah
Prinsip DRABC diterapkan, maka bisa dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada
tidaknya cedera/kegawatan lain yang menyertai. Apabila ada pendarahan
dihentikan secepatnya. Upayakan agar penderita tetap sadar. Korban yang tidak
sadar dan yang diduga mempunyai luka di perut tidak diberikan makanan atau
minuman. Korban yang mengalami luka bakar atau keracunan,dalam keadaan sadar
diberikan minuman dalam jumlah yang banyak, Lakukan tindakan P3K secara cepat
,tepat, dan hati-hati. Tetaplah berjaga mewaspadai ancaman bahaya selanjutnya
bagi korban. Tindakan dilakukan untuk menenangkan korban. Jika ada tanda syok,
telentangkan korban dengan letak kepala lebih rendah dari pada bagian tubuh
lain. Apabila korban muntah-muntah dalam keadaan setengah sadar baringkanlah
telungkup dengan letak kepala lebih rendah dari bagian tubuh lainnya. Cara ini
juga dilakukan untuk korban-korban yang dikhawatirkan akan tersedak oleh darah,
muntahan atau cairan lain kedalam paru-parunya. Korban tidak boleh dipindahkan
dari tempatnya sebelum dapat dipastikan jenis serta keparahan cidera yang
dialami. Jika hendak diusung, hentikan perdarahan dan tulang yang patah yang
harus di bedahi. Ketika diusung, kepala korban ada didekap pengusung yang
belakang agar dapat memperhatikan keadaan korban.
Kasus Kecelakaan Laboratorium dan Tindakan
Pertolongannya
1.
Pingsan
(Sinkop)
Pingsan
adalah keadaan kehilangan kesadaran sementara (sebentar) karena aliran darah ke
otak berkurang, sehingga otak tidak mendapat cukup glukosa dan oksigen.
Kejadiannya bisa berlangsung mendadak, cepat atau sebelumnya korban sudah
merasakan mau pingsan. Agar tubuh tetap sadar, bagian otak yang dikenal dengan
sistem pengaktif retikuler yang terletak di batang otak harus mendapat cukup
aliran darah dan setidaknya satu belahan otak harus berfungsi. Pada kondisi
pingsan, aliran darah mengumpul di bawah tubuh sehingga hanya sedikit yang
didistribusikan ke otak.
Pingsan
adalah salah satu mekanisme pertahanan alami dari tubuh untuk meminimalkan
kerusakan yang terjadi dalam tubuh. Faktor-faktor yang menyebabkan pingsan
antara lain overstimulasi sistem saraf vagus (nyeri, ketakutan, emosi
kemarahan, panik, stress, dan rasa sakit yang kuat), perubahan tekanan darah
(karena terlalu lama berdiri atau karena aktivitas fisik yang berlebihan dan
kurang istirahat), anemia (kurangnya asupan zat besi, penyakit atau perdarahan),
dehidrasi (karena muntah, diare, kurang minum, keringat berlebihan dan luka
bakar), syok, obat-obatan tertentu, hipoglikemia (misalnya karena puasa,
terlambat makan, tidak sarapan), serta ketidakseimbangan elektrolit. Pingsan
pada lansia lebih berbahaya daripada pingsan pada remaja dan orang dewasa.
Pertolongan
pada keadaan pingsan bertujuan memperbaiki aliran darah ke otak, menenangkan
dan menyamankan siswa setelah sadar. Adapun tindakan yang dilakukan pada
kondisi ini adalah sebagai berikut :
a. Pencegahan
Jika
siswa merasa mau pingsan (pusing berputar, mual, keringat dingin, penglihatan
kabur, telinga berdenging), dudukkan siswa di lantai dan mintalah dia untuk
meletakkan kepalanya diantara lututnya dan menarik napas panjang (membungkuk).
Jika ada kecurigaan cedera leher, cedera kepala serius, cedera syaraf spinal,
orang dengan gangguan pernapasan dan riwayat penyakit jantung, manuver ini
tidak boleh dilakukan. Jika siswa sudah membaik, ketika berdiri lakukan
perlahan-lahan.
b. Pertolongan
Lakukan
DR (Lindungi korban dari bahaya dan cedera, Pastikan korban mendapat udara
segar dengan membaringkannya di tempat yang nyaman, teduh, serta diatas alas
yang datar, Rangsang kesadaran korban dengan memberi wangi-wangian atau minyak
gosok di depan hidung). Baringkan korban dengan kaki ditinggikan dan ditopang
misalnya dengan bantal atau tas. Buka baju terutama bagian atas, kendorkan
pakaian bawah, pakaian dalam yang ketat, ikat pinggang, dan segala sesuatu yang
menekan leher. Lap dahi dan wajah dengan air panas – dingin bergantian (jangan
disiram). Jika korban mau muntah, miringkan kepala korban agar muntahan tidak
tersedak masuk ke paru-paru. Setelah pulih, tenangkan korban dan beri dukungan
emosional. Dudukkan korban secara bertahap, namun korban sebaiknya baru diberikan
minum setelah benar-benar sadar untuk menghindari masukknya minuman ke saluran
pernapasan.
c. Segera
Mencari Pertolongan Medis
Jika
siswa mengalami pingsan berulang, hilang kesadaran ketika duduk atau berbaring,
muntah untuk alasan yang tidak jelas, tidak segera bangun jika dirangsang
dengan bau-bauan dalam waktu > 5 menit, maka segera rujuk siswa ke sarana
kesehatan terdekat.
2.
Perdarahan
Perdarahan
adalah hilangnya darah dari pembuluh darah. Perdarahan lokal perlu segera
diatasi agar tidak terjadi kehilangan darah dalam jumlah yang banyak yang
berujung ke syok dan terjadi kematian. Jenis perdarahanada dua, yaitu
perdarahan keluar tubuh dan perdarahan ke dalam tubuh, seperti di dalam rongga
dada, rongga perut, dan otak. Secara umum cara mengatasi perdarahan adalah
mengatasi perdarahan, mencegah syok, mencegah infeksi dan mengatur pemindahan
korban ke RS. Pertolongannya adalah sebagai berikut:
a. Jika
luka tertutup pakaian, lepaskan pakaian atau digunting.
b. Baringkan
korban.
c. Bagian
tubuh yang berdarah ditinggikan.
d. Tekan
bagian yang berdarah dengan kassa steril, gunakan jari atau telapak tangan
dapat pula dua jari tangan jika luka cukup lebar.
e. Pembuluh
nadi yang terletak antara tempat perdarahan dengan jantung ditekan.
f. Luka
dibersihkan, dibalut jagan terlalu keras supaya tidak menghambat sirkulasi.
Kalau masih merembes, balut lagi diatas balutan.
g. Korban
dibawa kerumah sakit.
Torniket,
yaitu mengikat pembuluh darah terdekat dengan luka sangat jarang digunakan
karena dapat merusak syaraf dan pembuluh darah serta mempercepat kematian
jaringan. Sehingga, torniket hanya digunakan apabila terjadi perdarahan hebat
yang sulit dihentikan.
Perdarahan di Bawah Kuku
Jika
siswa terjepit pintu, terpukul benda tumpul atau kejatuhan benda yang berat
maka mungkin terjadi perdarahan di bawah kuku yang akan terlihat merah, nyeri,
bahkan dapat terkelupas. Pertolongan yang dapat diberikan yaitu dengan
mengkompres jari yang cedera dengan es atau air es, membuat lubang atau
menggunting kuku agar cukup terbuka untuk mengalirnya darah keluar. Jika darah
sudah keluar beri salep antibiotik dan diplester.
Mimisan
Perdarahan
hidung ini paling sering terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di dalam
hidung. Sebenarnya mimisan akan berhenti sendiri dan jarang memerlukan
perawatan medis, namun pendarahan yang terlihat hebat dapat membuat panik
korban maupun penolong. Pertolongannya dengan meminta korban untuk duduk dengan
kepala ditundukkan jauh ke depan agar darah tidak terisap masuk ke paru-paru,
menekan kedua lubang hidung selama 5 menit dan meminta korban bernapas dengan
mulut. Jangan biarkan korban berbicara, menelan, meludah, batuk maupun bersih
karena mengganggu pembekuan darah, berikan lap atau tissue bersih untuk menyeka
darah. Setelah 10 menit minta korban melepaskan pijitan hidung, jika masih
berdarah tekan lagi selama 10 menit. Setelah perdarahan teratasi, bersihkan
sekitar mulut dan hidung dengan air hangat sementara posisi korban tetap
menunduk ke depan. Sarankan korban agar istirahat dengan tenang dan jangan
menghembuskan napas kuat-kuat melalui hidung. Jika terjadi perdarahan lebih
dari 30 menit segera bawa ke RS terdekat.
Perdarahan Mulut
Perdarahan
mulut dapat disebabkan karena luka pada hidung, bibir dan pinggiran mulut dari
yang ringan sampai cedera yang berbahaya. Perdarahan dapat pula berasal dari
gusi karena gigi tanggal atau cabut gigi. Pertolongannya dengan menyuruh korban
duduk, menundukkan kepala, memiringkan kepala ke sisi yang sakit supaya darah
mengalir keluar. Letakkan bantalan kasa steril diatas luka dan dijepit dengan
jari-jari dan ibu jari korban selama 10 menit atau jika dari gusi, letakkan
diatas gusi yang berdarah dan minta korban menggigitnya. Jangan menelan tetesan
darah di dalam mulut karena dapat memicu muntah, serta korban jangan dulu minum
minuman panas selama 12 jam. Jika luka lebar dan perdarahan tidak berhenti
lebih dari 30 menit segera bawa ke RS terdekat.
3.
Luka
Luka
merupakan keadaan dimana terjadi kerusakan dalam kontinuitas kulit dan jaringan
bawah kulit (terbuka) atau jika terputusnya kontinuitas kulit dibawah kulit
saja, kulit tetap utuh/intak dinamakan luka tertutup. Berikut jenis luka dan
perawatannya :
a. Luka
Lecet
Luka
yang terjadi karena jatuh bergeser pada permukaan yang keras dan kasar misalnya
karena jatuh terseret atau terkena percikan api. Biasanya lapisan kulit
terkelupas dan membekas berupa daerah yang kasar dan lunak. Partikel
debu-kotoran yang terbawa sering menimbulkan infeksi tambahan. Pertolongannya
dengan membersihkan luka dengan air dingin atau hangat, mengalir dan bukan
dicelupkan. Antiseptik sebaiknya ditambahkan untuk membantu membersihkan luka.
Diberi betadin, dan ditutup dengan kasa steril kemudian diplester atau dibalut.
Bawa korban ke RS terdekat untuk mendapatkan suntikan anti tetanus.
Jika
luka cukup lebar dan terbuka, lakukan disinfeksi dengan meletakkan kasa steril
di tengah luka sebelum luka dibasuh dengan air sabun dan dicuci dengan antiseptik.
Setelah kasa tsb diambil, luka disiram kembali dengan air bersih dan kotoran
yang masih tertinggal diambil dengan pinset steril. Luka kemudian ditutup
dengan sofratulle (kassa steril yang sudah diberi salep antibiotik) kemudian
diatasnya diberi kasa steril tebal kemudian dibalut.
b. Luka
Iris
Luka
akibat benda tajam seperti pisau atau pecahan kaca. Luka iris yang pendek dan
dangkal, dibersihkan dengan air matang bersih, diberi obat merah atau
antiseptik, dirapatkan dan dibalut, atau ditutup dengan plester atau kain kasa
yang bersih. Luka iris yang dalam dan panjang, dibersihkan dan ditutup dengan
kain kasa steril, korban dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit.
c. Luka
Tusuk
Luka
yang disebabkan oleh benda berujung runcing seperti paku, jarum atau tertikam. Luka
dibersihkan, ditutup, dan korban dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit untuk mendapat
suntikan anti tetanus.
d. Luka
Memar
Luka tertutup
dimana kerusakan jaringan dibawah kulit disertai perdarahan yang dari luar
tampak kebiruan. Penanganannya dengan kompres air hangat–dingin bergantian, dan
meninggikan bagian yang luka.
Pencegahan yang
dapat dilakukan anda agar siswa tidak teluka, tebentur atau tertumbuk adalah
letakkan benda yang membahayakan yaitu yang tajam dan benda lainya pada tempat
yang aman bagi siswa, kemudian jelaskan kepada siswa dan orang di sekeliling
siswa mengenai bahaya terluka, terbentur, dan tertumbuk.
4.
Luka
Bakar
Penyebab
siswa terbakar dapat berasal dari api, uap panas, dan benda panas berupa cairan
(air, minyak, dan gula), benda padat (setrika, rokok, peralatan masak, dan
lampu), dan bahan kimia, seperti air aki, serta sengatan listrik atau petir.
Sebagai guru, anda harus berpikir jernih dan cepat ketika menghadapi kasus anak
terbakar. Segera peringatkan siswa yang lain, dan minta mereka keluar. Segera
baringkan korban dengan bagian yang terbakar berada diatas, padamkan api dengan
menyiramkan air atau dengan alat pemadam kebakaran. Selimuti korban dengan
mantel atau selimut (bukan dari bahan yang mudah terbakar), kemudian baringkan
di lantai. Perhatian jangan menggunakan bahan yang mudah terbakar ketika
memadamkan api, dan jangan menggulingkan korban di tanah karena api dapat
menjalar menimbulkan luka baru.
Apabila
siswa terbakar maka kita harus menilai dahulu derajat luka bakarnya untuk bisa
memberikan pertolongan yang tepat. Tingkatan luka bakar adalah sebagai berikut
:
a. Luka
bakar ringan, yaitu luka bakar yang hanya mengenai lapisan luar kulit dan
kurang dari 20% luas permukaan tubuh. Misalnya ketumpahan teh atau kopi panas,
terpercik minyak, atau memegang benda panas. Tandanya kulit merah, agak
bengkak-lunak, nyeri tekan dan sakit.
b. Luka
bakar sedang, yaitu luka bakar yang merusak setengah ketebalan kulit dan kurang
dari 50% luas permukaan tubuh. Pada umumnya dapat sembuh sendiri tanpa bantuan
medis namun kalau luas berbahaya. Tandanya kulit terbakar berwarna merah,
melepuh dan bengkak berisi cairan serta kulitnya kasar, dan nyeri hebat.
Misalnya terkena air panas atau knalpot motor.
c. Luka
bakar berat, yaitu luka bakar yang mengenai seluruh lapisan kulit termasuk
lapisan germinal di bawah kulit, serta mengenai syaraf, otot dan lemak. Kulit
tampatk pucat seperti lilin atau terkadang hangus, tidak akan terasa nyeri
karena syaraf sudah rusak.
Penanganannya
terhadap luka bakar dan sengatan aliran listrik atau kilat yang harus anda
lakukan sebagai berikut :
a. Luka
bakar ringan, dinginkan bagian tubuh yang terkena dengan menyiram dengan air
bersih yang dingin dan mengalir (bukan air es) sampai berkurang rasa sakitnya.
b. Luka
bakar sedang, lepuh tidak boleh dipecahkan jika pecah bersihkan dan tutup
dengan salep luka bakar. Luka ditutup dengan kain kasar steril.
c. Luka
bakar berat, Luka ditutup dengan kasa steril dan anak dibawa ke Puskesmas atau
rumah sakit.
Pada penanganan
luka bakar sebaiknya penolong jangan mencoba melepaskan apapun yang melekat
pada luka karena bisa terjadi kerusakan yang lebih parah dan menyebabkan
infeksi, jangan menyentuh atau mengusik luka, jangan memakai pasta gigi, krim
atau minyak apapun pada kulit yang terbakar, jangan memecahkan lepuh
(gelembung) jika tidak memiliki alat steril, jangan menggunakan bahan berbulu
atau plester pada luka bakar.
Luka Bakar karena Bahan Kimia
Luka
bakar ini ditandai dengan nyeri hebat yang menyengat, melepuh dan kulit
terkelupas. Pertolongannya segera sirami luka dengan air mengalir yang banyak
selama 20 menit dan lindungi bagian yang tidak terkena bahan kimia, lepaskan
pakaian yang terkontaminasi (hati-hati jangan sampai penolong ikut
terkontaminasi), menutup luka dengan kasa steril atau kain bersih dan segera
mencari pertolongan medis. Jangan berusaha melepaskan apapun yang menempel pada
kulit.
Luka Bakar Kimia di Mata
Percikan
bahan kimia kuat ke dalam mata dapat menimbulkan trauma serius yang bisa
menyebabkan perlukaan pada mata yang berujung kebutaan. Tanda-tandanya antara
lain nyeri hebat pada mata, tidak bisa dibuka, merah dan bengkak yang dalam dan
disekitar mata, banyak mengeluarkan air (nrocos). Pertolongannya adalah segera
mengalirkan air dingin ke mata yang sakit minimal selama 10 menit dan air harus
mengaliri kedua sisi kelopak mata. Jika mata masih menutup, tarik kelopak mata
kebawah hati-hati jangan sampai terjadi perlengketan. Mata lalu ditutup dengan
pembalut steril yang tidak berbulu dan segera cari pertolongan medis.
Para guru tentu
harus mengetahui upaya pencegahan yang dapat dilakukan agar siswa tidak
terbakar antara lain dengan :
a. Menjauhkan
benda yang menyebabkan terbakar dari jangkuan siswa.
b. Memberikan
pengaman pada benda penyebab terbakar atau berbahaya, misalnya menutup lubang
kontak listrik atau memasang lubang pada tempat yang tinggi, jaga agar benda
tersebut aman, yaitu kabel terisolasi/ tertutup dengan baik, letakkan benda
listrik jauh dari air.
c. Matikan
api atau benda listrik segera apabila tidak dipakai atau apabila ada orang di
dekatnya.
d. Jauhkan
siswa dari benda yang menyebabkan terbakar.
e. Usahakan
siswa berada di dalam ruangan apabila hujan terutama yang berpetir.
f. Berikan
pengertian kepada siswa mengenai bahaya yang ada.
Sumber Referensi
Jahya,
Ranawidjaja. 1998. Panduan Pengelolaan
Laboratorium IPA. Bhratara: Jakarta.
Kertiasa,
Nyoman. 2006. Laboratorium Sekolah dan
Pengelolaannya. Bandung: Pudak Scientific.
Lubis, M. 1993. Pengelolaan Laboratorium IPA. Jakarta:
UT Press.
Suraya. 1988. Pedoman Penggunaan Laboratorium IPA SMP-SMA.
Bhratara: Jakarta.
Wirjosoemarto, K.,
dkk. 2004. Teknik Laboratorium. Bandung: FMIPA UPI Press.
No comments:
Post a Comment